Sunday, December 11, 2011

Momok Bernama Ujian Nasional (2)

0 comments
Setiap guru di depan siswa, selalu membicarakan tentang UNAS. Kepala sekolah sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan UNAS. Sementara siswa lebih suka merenung dan berdiam diri membayangkan seandainya dirinya tidak lulus. Ketika diadakan uji coba UNAS dan siswa yang tidak lulus menjadi bingung, putus asa, stres dan akhirnya menangis tanpa ada sebab yang jelas.
Kemampuan intelegensi siswa pastilah beragam, tetapi dalam menghadapi UNAS semua siswa dipaksa untuk bisa mengerjakan soal yang sama. Sehingga dalam pelaksanaan UNAS tidak ada perbedaan antara sekolah kota dan desa, antara anak orang kaya dan anak orang miskin. Namun betapa sulit dan berat, mau tidak mau UNAS harus dihadapi semua siswa di seluruh Indonesia.
Lebih mengherankan lagi bahwa guru-guru yang mengajar materi mata pelajaran UNAS, tidak boleh mengawasi pelaksanaan UNAS, tidak boleh masuk atau mendekati ruang UNAS, tidak boleh mengkoreksi hasil UNAS dan tidak boleh menilai hasil UNAS siswanya. Berarti guru-guru tersebut hanya boleh mengajar dan harus menanggung resiko apabila ada siswanya yang tidak lulus, serta harus mempertanggungjawabkan selama mengajar kepada kepala sekolah, siswa, orang tua siswa dan masayarakat sekitarnya.
Inilah berhala zaman baru yang sedang dipuja-puja kaum intelektual dan calon-calon intelektual Indonesia. Semoga berhala ini cepat sirna dan kaum intelektual tersadar untuk kembali pada pendidikan yang membumi, tidak lagi mengagung-agungkan sistem pendidikan yang cacat dan lari kepada jalan keluar yang tidak sehat. lintasberita
Powered By LintasBerita

Momok Bernama Ujian Nasional

0 comments
Setiap 5 bulan sebelum Ujian Nasional (selanjutnya UNAS) dilaksanakan dan 1 bulan setelah UNAS dilaksanakan, semua orang membicarakan tentang UNAS. Guru, karyawan sekolah, siswa dan orang tua siswa menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mensukseskan UNAS. Orang tua siswa dikumpulkan di sekolah untuk membicarakan UNAS, guru-guru sering rapat dengan agenda UNAS bahkan pejabat politis menghimbau semua jajarannya untuk berperan aktif mensukseskan UNAS. Kegiatan belajar dioptimalkan, siswa diberi pelajaran tambahan/les UNAS, lembaga-lembaga pendidikan non formal dipenuhi pelajar yang akan menempuh UNAS, siswa diajak untuk mengerjakan soal-soal, kegiatan-kegiatan religius (do’a bersama, istighosah, tirakatan dan meminta dukungan paranormal) pun digiatkan, jam pelajaran ditambah bahkan jam mata pelajaran yang bukan materi UNAS bisa dipakai untuk jam pelajaran UNAS. Di sini timbul permasalahan, bahwa mata pelajaran yang bukan materi UNAS dipandang sebagai pelajaran yang tidak penting. Bagi orang tua yang kurang percaya dengan guru di sekolah, mereka akan membawa anaknya masuk pada lembaga pendidikan non formal. Ikut les tambahan pada lembaga pendidikan non formal adalah salah satu jurus yang paling diminati untuk mensukseskan UNAS. lintasberita
Powered By LintasBerita

Tuesday, August 02, 2011

MENANTI GURU SUPER (2)

0 comments
Suatu kali pernah terdetik gagasan, untuk mengajar dengan kostum superhero, misalnya, daripada memakai baju safari atau uniform yang digariskan pemerintah. Ini karena superhero adalah tokoh yang diidolakan anak-anak, ‘fatwa-fatwa’nya didengar, bahkan baju yang pernah dipakainya pun dijual mahal. Pernah juga terbayang untuk mengajar murid-murid di pasar, stasiun, rumah sakit atau tempat-tempat umum yang lain, sebagai upaya mendekatkan mereka dengan realita keseharian yang diajarkan. Ini karena, realita keseharian, permasalahan, akan lebih dikenali dari dekat ketimbang (menjejalkan) teori-teori yang paling-paling akan dianggap kosong belaka.
Celakanya, ini hanyalah angan mewah di negeri yang kian disipongangi oleh kabar tawuran antar kelompok warga, pernikahan besar-besaran selebriti dengan foto prewedding yang ‘wah’, pesiar anggota dewan ke luar negeri, juga merebaknya video porno pelajar. Kapal retak ini kian membusuk, dikelindani oleh kesulitan ekonomi berkepanjangan, dan akan segera menjadikannya barang rongsok yang diobral pun tak laku.
Pesimiskah ? Justru ini harus dijadikan tantangan, cakra manggilingan, yang akan membawa kapal pendidikan ke lautan damai. Superhero tak lahir dari rahim subur tanpa kendala, melainkan dari mereka yang mampu mengenali masalah dan menemukan formula solusi yang tepat untuknya. Guru super tak mungkin berasal dari sistem pendidikan yang telah dipenuhi fasilitas, melainkan dari situasi krisis yang bahkan tak memungkinkannya untuk mengajar. lintasberita
Powered By LintasBerita

Monday, August 01, 2011

MENANTI GURU SUPER (1)

0 comments
Sungguh, beban yang disandang guru, apalagi yang mengajar pada jenjang pendidikan dasar, amat berat. Guru SD/MI merupakan peletak dasar worldview tentang kependidikan pada anak-anak bangsa. Jika dasarnya baik, maka (diharapkan) anak-anak bangsa akan merespon positif terhadap pendidikan yang mereka alami berikutnya. Sebaliknya, jika buruk, (dikhawatirkan) dapat menjadi stigma betapa rendahnya kualitas pendidikan maupun sekolah pada khususnya.
Para peserta didik akan trauma dengan pendidikan dan menganggap sekolah sebagai penjara bagi kebebasannya berkreasi. Timbullah gagasan deschooling society, home schooling, serta maraknya lembaga-lembaga bimbingan belajar, sebagai dampak carut-marutnya sistem pendidikan nasional, yang menjadikan guru tidak maksimal mengajar di sekolah.
Itu masih sekelumit kondisi internal dalam dunia pendidikan, sedangkan, tantangan dari luar dunia ini masih amat banyak. Kompetitor yang dianggap paling besar dan kerap dikeluhkan para pengajar adalah glamor dunia selebriti, stasiun-stasiun televisi, yang dituding banyak menampilkan tontonan-tontonan tak layak konsumsi.
Peserta didik lebih mengidolakan pesohor yang tak pernah mereka temui daripada guru yang sehari-hari mendampingi. Para petenar yang baru kemarin sore dibesarkan media lebih diamini ketimbang guru-guru yang dengan setia memberikan bimbingan dari nol. lintasberita
Powered By LintasBerita

Saturday, February 12, 2011

AHMADIYAH WARISAN PENJAJAH

0 comments
Ahmadiyah di negeri kelahirannya, Pakistan dan India, lebih dikenal dengan nama jemaat (golongan) Qodiyaniah. Penamaan jemaat ini dengan Ahmadiyah untuk mengecoh kaum muslimin di luar, sebab di tanah kelahirannya hanya populer dengan nama Qodiyaniah, sesuai dengan nama tempat kemunculannya, Qodiyan. Kendatipun sejatinya tidak ada hubungannya sama sekali antara mereka dengan Rasulullah Muhammad shallahu 'alaihi wassalam yang salah satu namanya adalah Ahmad. Sebab nama lengkap nabi mereka adalah Ghulam Ahmad, bukan Ahmad (saja).
Demikian penuturan Syaikh Ilahi Zhahir, seorang ulama Pakistan yang mendalami gerakan ini dan menuliskannya dalam buku berjudul:
Al-Qodiyaniah, Dirosatun Wa Tahlil, terbitan Idaratu Turjumanis Sunnah,
Lahore Pakistan. 1]
Salah satu fakta tersembunyi yang beliau angkat, bahwa Qodiyaniah (Ahmadiyah) merupakan warisan penjajah kolonialisme Inggris. Untuk membuktikannya, beliau hanya membiarkan mereka berbicara tentang diri mereka sendiri lewat buku dan pernyataan mereka. Inilah beberapa pernyataan mereka baik dari nabi palsu, keturunannya, maupun misionaris agama Qodiyaniah.
Mirza Ghulam Ahmad mengaku, kebanyakan orang yang masuk dalam jemaatku adalah para pegawai pemerintahan kolonial Inggris yang mempunyai kedudukan tinggi atau para petinggi negeri ini dan kaum pedagang besar, termasuk para pengacara dan para pelajar yang menekuni kajian Inggris atau para ulama yang menjadi antek pemerintah kolonialis Inggris masa lalu atau yang sekarang masih melayani pemerintahan kolonialis itu, kaum kerabat mereka dan orang-orang terkasih mereka. Ringkasnya, jemaat ini membentuk pemerintahan kolonialis Inggris, sehingga mendapatkan keridhaannya... “Saya dan para ulama yang mengikutiku bertugas menjelaskan kebaikan-kebaikan pemerintahan kolonialis ini dan menanamkannya di hati ribuan orang” (Aridhatul Ghulam al-Qodiyani, tabligh risalat 7/18) 2]
Seorang misionaris Qodiyaniah dengan bangga mengakui, “Saya beberapa kali dijebloskan dalam penjara Rusia dengan tuduhan sebagai mata-mata Inggris. Padahal saya tidaklah pergi ke Rusia kecuali untuk menyebarkan ajaran Qodiyaniah. Namun, dikarenakan misi dan tujuannya berhubungan erat dengan misi pemerintahan Britania (Inggris), maka saya terpaksa menjalankan misi pemerintahan Inggris dan melaksanakan kebijakannya” (Maktub Muhammad Amin, penyebar Qodiyaniah, Harian al-Fadhl milik Ahmadiyah 28 September 1923 M) 3]
Sementara itu, putra si Mirza Ghulam Ahmad pun yang menjadi khalifah Ahmadiyah pertama pun mendukung pengakuan sang ayah dengan berkata, “Sesungguhnya ulama Islam menuduh kita membantu kolonialis Inggris dan mengejek kita lantaran kita bergembira atas penaklukan-penaklukan yang dilakukan pemerintah kolonialis Inggris (di negeri-negeri islam). Kita ingin bertanya, kenapa kita tidak boleh bergembira? Mengapa kami tdak boleh bahagia? Imam kami (Mirza Ghulam Ahmad) telah menyatakan, Sesungguhnya aku adalah (Imam) Mahdi ddan pemerintahan kolonialis Britania (Inggris) adalah pedangku. Kita bersuka cita atas kemenangan ini. Dan kita ingin menyaksikan sinar dan kilatan pedang (kolonialis Inggris) ini di Irak, negeri Syam dan di seluruh wilayah. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menurunkan malaikat untuk mendukung dan membantu pemerintah Inggris” (Harian al-Fadhl 7 Desember 1918 M) 4]
Dia menambahkan, “Sesungguhnya ada ratusan orang (jemaat Ahmadiyah) ikut berperang bersama pasukan Inggris untuk menaklukkan negeri Irak dan rela menumpahkan darah untuk itu” (Harian al-Fadhl 31 Agustus 1923 M)5]
Pemerintah Afganistan pernah membunuh dua orang Ahmadiyah yang menjadi mata-mata Inggris di saat berkecamuknya peperangan antara dua negara itu. Menteri Urusan Dalam Negeri Afganistan menyampaikan bahwa ditemukan dokumen-dokumen resmi yang membuktikan mereka berdua adalah antek kolonialis Inggris. Namun, putra Mirza Ghulam Ahmad, Khalifah Qodiyaniah pertama justru berbicara dengan bangga dalam khutbah jum'atnya, “Seandainya orang-orang kami bila diam saja saat berada di Afganistan dan tidak berterus terang tentang akidah kami berkaitan dengan jihad, maka tidak akan ada sesuatu yang menimpa mereka. Akan tetapi, mereka ini tidak mampu menyembunyikan perasaan cinta dan kasih sayang mereka kepada pemerintah Britania (Inggris) yang menugaskan
mereka melalui kami. Karenanya, mereka akhirnya tewas”. (Khutbah Jum'at yang diterbitkan dalam Harian al-Fadhl 16 Agustus 1935 M) 6]
Demikian beberapa pengakuan jujur mereka tentang jati diri sendiri (Ahmadiyah). Meski tidak banyak, tapi sudah memadahi untuk menampakkan wajah asli mereka. Adalah pantas bila umat Islam tidak menerima keberadaan mereka meski kami juga tidak mendukung tindakan anarki terhadap para pengikut Qodiyaniah di negeri ini. Pemerintahlah yang berkewajiban mengamankan akidah umat Islam.
Wallahu a'lam.
Penulis: ustadz Abu Minhal (Majalah As-Sunnah, Edisi 10/THN.XIV/RABIUL AWWAL 1432 H / PEBRUARI 2011 M, halaman 54) lintasberita
Powered By LintasBerita

Friday, December 31, 2010

Revitalisasi Madrasah

0 comments

Barangkali benar, sistem pendidikan nasional dewasa ini sekadar meneruskan sistem yang sama diterapkan pada masa kolonial dahulu.

Saat itu, penjajah lebih mementingkan sekolah-sekolah bentukannya sendiri, yang kemudian hari disebut sebagai sekolah negeri. Sebaliknya, lembaga-lembaga pendidikan rintisan masyarakat disebut dengan wilde scholen, ‘sekolah liar’, yang kemudian disebut sekolah swasta (“Sejarah Pendidikan Indonesia”, S. Nasution, PT. Bumi Aksara, 2008).

Apa yang terjadi semenjak pemerintah kolonial mendirikan sekolah-sekolahnya pada pertengahan tahun 1700-an ? Justru penjajahan semakin langgeng, karena sekolah-sekolah negeri bentukan Belanda hanya menjadi perlambang status sebagai bagian masyarakat yang terhormat. Anak-anak sekolah bentukan Belanda acapkali kemudian menjadi pegawai pemerintah penjajah yang sering mengkhianati bangsanya sendiri dan, sebaliknya, menjilat muka penjajah.

Bagaimana pula yang terjadi ketika masyarakat mulai berinisiatif mendirikan sekolah-sekolah, yaitu Taman Siswa yang berorientasi nasionalisme dan Muhammadiyah yang bersifat keislaman, pada awal tahun 1900-an ? Sejak saat itu lahirlah generasi terdidik yang kemudian mendirikan organisasi-organisasi pergerakan bangsa yang lebih modern dan terorganisir, dan pada saatnya memproklamirkan kemerdekaan bangsa.

Perjuangan rakyat yang sekian ratus tahun menemui jalan buntu, pada waktu itu mendapati momentumnya justru ketika masyarakat berinisiatif mendidik dirinya sendiri dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang oleh pemerintah kolonial pada saat itu disebut dengan ‘sekolah liar’.

Inilah cikal bakal madrasah, yang berawal dari sekolah-sekolah swasta bentukan masyarakat sendiri sebagai wujud kegeraman atas sekolah-sekolah bentukan penjajah.

Dalam perkembangannya, sekolah umum lebih diminati kalangan orangtua murid ketimbang madrasah. Ini merupakan ironi, sebab, selain porsi pendidikan agama di sekolah umum yang sedikit, pula karena praktek pengajaran ala penjajah masih kerap ditemui pada sekolah umum. Misalnya, pencekokan materi pelajaran yang sejatinya pengkerdilan daya nalar peserta didik, pendapat guru selalu benar - tak boleh dibantah, dll.

Dengan landasan semangat kembali pada perjuangan bangsa, maka Kementerian Agama agaknya tengah berupaya maksimal menguri-uri eksistensi madrasah. Dalam kondisi moral bangsa yang disipongangi berbagai bencana fisik maupun akhlak, revitalisasi madrasah menemukan alasannya. Program kementerian ini antara lain menelurkan program MEDP (Madrasah Education Development Project) yang saat ini masih dalam tahap pertama, mendirikan berbagai madrasah berstandar internasional di beberapa wilayah, mengiklankan madrasah di stasiun-stasiun televisi (beserta film “Simba dan Sahabat”, yang berkisah mengenai haru-biru murid madrasah).

Upaya pemerintah ini patut disambut hangat karena, di luar berbagai cap jelek yang ditabalkan pada Kementerian Agama, disemangati oleh romantisme kembali pada eksistensi awal sebagai bangsa pejuang yang ‘berdikari’ (berdiri di atas kaki sendiri, meminjam istilah Bung Karno), bukan bangsa pegawai, yang sekadar mewarisi sistem peninggalan bangsa penjajah.

Penulis, mengajar di MI Sutapranan,

Kec. Dukuhturi, Kab. Tegal

lintasberita
Powered By LintasBerita

Sunday, May 30, 2010

YA, AKU SEORANG MORALIS !

0 comments
Gelisah sekali saat sore ini penonton sepakbola meneriakkan "JUPE! JUPE!", karena yang memasukkan bola ke gawang lawan adalah pasangan zina artis terkenal ini. Gelisah karena aku cemburu, khawatir akan nasib anakku, anak-anak bangsa, apa yang akan mereka alami nanti jika saat ini para pezina dibebaskan mengekspresikan diri di media-media umum seperti stasiun televisi, tampil sebagai entertainer atau olahragawan, bahkan diajukan sebagai calon pejabat oleh partai bodoh dalam sistem perpolitikan yang laknat ...
Orang lain mungkin akan berkata, "Bukan sok moralis, tapi ..."
Kalau aku, jelas-jelas aku menyatakan diriku sebagai seorang moralis, puritan, konservatif.
Dan aku BANGGA dengan hal itu.
lintasberita
Powered By LintasBerita

Saturday, May 29, 2010

BETAPA KERINDUANKU ...

0 comments
MASYA ALLOH ... BETAPA SULITNYA BERENANG DI ANTARA LAUTAN MINYAK ... lintasberita
Powered By LintasBerita

Friday, January 15, 2010

Saatnya Bagi Dunia Pendidikan

0 comments

Kebodohan-lah, yang lebih menjadi persoalan di negeri ini, daripada kemiskinan. Jika sebagian kalangan aktivis berpendapat bahwa kemiskinan adalah persoalan mendasar bangsa kita (hingga seminar tentang kemiskinan dan seribu satu macam cara untuk menghindarinya lebih marak), maka sebenarnya kebodohan-lah, sumber masalah bangsa.

Orang kaya yang bodoh, akan mudah tertipu, hartanya terbuang untuk investasi yang percuma. Sebaliknya, si miskin yang berilmu, akan menemui pandangan hidup yang berkarakter dan menjadikan hidupnya bermanfaat bagi orang lain.

Masalah akan terlihat kian jelas saat kemiskinan berselingkuh dengan kebodohan. Rombongan massa yang mengantri zakat sembako tiap menjelang lebaran biasanya miskin, juga bodoh. Kebodohan membuatnya tak malu untuk menengadahkan tangan tanpa karya. Hanya status miskin dan kesediaan mengantri-lah yang menyebabkannya memperoleh sekadar sebungkus beras dan uang penyambung hidup.

Bagaimana dengan orang berilmu ? Ilmu mereka akan bersinergi dengan otaknya, kemudian menggerakkan tangan dan seluruh anggota badannya, bisa jadi, untuk memanggul kayu bakar, menjual jasa pijat, menarik becak, atau menyewakan payung sebagai peneduh dari panas maupun hujan, yang dengannya didapatlah uang sekadar pengganjal perut.

Bukankah semua pekerjaan memerlukan ilmu ? Betapakah si miskin mendapatkannya ? Para motivator berpendapat, bila seluruh kekuatan kita kerahkan, maka lautan pun dapat diseberangi, gunung bisa dipindahkan, bintang gemintang diduduki.

Ilmu bukan hanya dapat diperoleh di sekolah-sekolah formal, namun begitu banyak ilmu (hikmah) yang berserakan. Hanya karena kebodohan kita pulalah, maka emas tampak sebagai batu biasa, sedang kerikil-kerikil terlihat seperti untaian zamrud penghias dunia.

Pendidikan dapat dilaksanakan di tempat-tempat terhormat bertabur pualam, maupun di daerah-daerah kumuh beratap langit dan berpijakkan bumi telanjang. Pengajaran bisa diberikan oleh semua orang yang berilmu lebih tinggi, tanpa harus dengan latar belakang pendidikan tertentu, dan boleh dinikmati siapapun yang ingin, tanpa batasan umur. Masalahnya adalah, kita terlanjur memandang segalanya dengan sudut pandang formal. Dan kebodohan kita membuat formalisasi itu merajalela. Tak aneh jika di surat kabar marak iklan mendapatkan ijazah dengan jalan mudah dan waktu singkat.

Inilah saatnya bagi dunia pendidikan menampilkan wajah santunnya, menawarkan alternatif bagi bangsa yang penat dari kebodohan yang kian menegas ini.

lintasberita
Powered By LintasBerita

Saturday, December 19, 2009

“MAKLUMAT PERJUANGAN FORGUSTA KAB. TEGAL”

0 comments
Assalaamu’alaikum wr. wb.
Saudara-saudara senasib dan sependeritaan, sesama anak bangsa yang “ditakdirkan” menjadi guru swasta, yang perjuangan luhurnya hanya dipandang sebelah mata oleh Negara, marilah kita kembali merapatkan barisan, dan bulatkan tekad untuk terus menggugat perilaku diskriminatif Negara terhadap eksistensi kita.
Tahun 2005 kita didholimi dengan munculnya PP 48 yang kemudian revisi PP 43 tahun 2007 justru memperparah penderitaan guru-guru swasta sekolah swasta.
Belum sembuh luka menganga karena PP tersebut guru-guru swasta sekolah swasta akan ditikam lagi oleh pemerintah yaitu rencana pemerintah mensyahkan RPP tentang pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS pada tahun 2010.

Inilah Bentuk Pembantaian Sistematis Pemerintah Kepada Guru-Guru Swasta Sekolah Swasta. Mereka menutup mata dan telinga, justru lahirnya PP tersebut telah memunculkan kasta-kasta pada profesi guru yang notabene ambil peran besar dalam mendesain carut-marutnya pendidikan di negeri ini. Lantas mau didesain bagaimana potret pendidikan dan masa depan anak bangsa ini ?

Mari kita renungkan, Pemerintah Kabupaten Tegal selaku kepanjangan sistem dan representasi peran Negara di daerah, juga dengan congkaknya mempertontonkan sikap diskriminatif itu. Lalu apa gunanya UU Sisdiknas, juga UU Guru dan Dosen dilahirkan jika watak diskriminatif itu tetap dipelihara, dan yang mesti dikorbankan adalah guru swasta ? Apakah memang guru swasta diharamkan untuk mendapatkan kesejahteraan yang layak ?

Karena itu saudara-saudara, kita pun patut mempertanyakan kebijakan PEMKAB Tegal yang berencana mengurangi tunjangan guru-guru swasta pada TA. 2010 dengan alasan RAPBD 2010 tidak memungkinkan memberi kesejahteraan yang layak bagi guru-guru swasta, ironisnya pada TA. 2009 panitia anggaran DPRD Kab. Tegal merekomendasi kenaikan tunjangan guru swasta pada anggaran perubahan TA. 2009.

REALISASINYA, JANGANKAN NAIK, MALAH TURUN DRASTIS. NAUDZUBILLAHI MINDZALIK.

Sementara kalau kita cermati RAPBD TA. 2010 banyak yang tidak ada signifikansinya bagi kesejahteraan rakyat banyak. Belum lagi menggelembungnya biaya operasional setiap kegiatan ataupun proyek-proyek yang akan dikerjakan masing-masing instansi. Sungguh sebuah konspirasi jahat yang sangat menyakiti hati rakyat, jika itu berjalan sesuai rencana mereka bukankah mereka telah berjanji untuk membela kepentingan rakyat saat kampanye dulu ? Ingat janji adalah hutang, dan hutang harus dibayar.

Karenanya, kita yang tergabung dalam Forum Guru Sekolah Swasta (FORGUSTA) Kab. Tegal akan terus menyerukan perjuangan menuntut keadilan dan menolak segala bentuk diskriminasi terhadap guru swasta.

Kami yakin, saudara-saudara para wakil rakyat dan segenap pimpinan daerah ini masih memiliki iman dan komitmen, masih sadar bahwa setiap bentuk kezaliman akan membuahkan azab yang teramat pedih. Kini, bertanyalah dengan jujur pada diri sendiri, apakah ketika menyusun dan membahas APBD 2010 ini terbersit niat atau bahkan telah merencanakan praktik korupsi ?

Jika jawabannya Ya, maka Fantadziirus Saa’ah, Tunggulah saatnya! Tangan-tangan rakyat ini akan terkepal untuk mengganyang kezaliman itu!

Demikian, semoga Allah Yang Maha Perkasa berkenan meluruskan hidup kita. Amin.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Slawi, 16 Desember 2009
(dikutip sesuai dengan naskah aslinya) lintasberita
Powered By LintasBerita

Saturday, December 12, 2009

MENANTI MASYARAKAT PEMBELAJAR

0 comments

Gonjang-ganjing keputusan Mahkamah Agung yang melarang pelaksanaan Ujian Nasional tak dapat dilepaskan dari kondisi nyata sosial masyarakat yang ada. Keadaan yang membuat orangtua murid selalu menuntut agar anaknya naik kelas, lulus ujian, bagaimanapun mutu intelektualitas anaknya tersebut. Hal ini menjadikan masyarakat, dalam hal ini orangtua peserta didik, menjadi faktor yang paling sukar ditakar kompetensinya akan mutu pendidikan.

Jika pemerintah dan masyarakat dihadapkan vis a vis, maka program pemerintah relative lebih mudah dikoreksi, ketimbang perilaku masyarakat. Tak mungkin suatu program pendidikan dirancang agar peserta didik tawuran, nyontek pada saat ujian, bergaul bebas dengan lawan jenisnya, dan pada gilirannya, supaya tidak lulus sekolah, dll.

Kalaulah terjadi hal-hal negatif seperti tersebut di atas, ini mengindikasikan terjadinya missing link, keterputusan fungsi di antara pihak-pihak yang berkepentingan dalam pendidikan.

Setidaknya, ada empat pihak yang berkepentingan dalam bidang pendidikan. Pertama, pemerintah, sudah menjalankan fungsinya melaksanakan UU Sisdiknas sebagai amanat pasal 31 UUD 1945, mendirikan sekolah-sekolah di pelosok nusantara, dan menggelontorkan dana hingga 20% dari APBN untuk bidang pendidikan. Jika ada satu dua kebijakan yang tidak berhasil tentu bukan itu sasarannya.

Kedua, guru (dan kepala sekolah) sebagai pendidik, mengikuti berbagai macam seminar, pelatihan, workshop demi peningkatan kinerjanya di sekolah. Berbagai pelatihan itu kemudian sedikit banyak diterapkan dalam pembelajaran di kelas-kelas. Minimal ataupun maksimal hasilnya, toh para pendidik telah menjalankan tugasnya. Bila ada satu dua pendidik yang mangkir, mengajar asal-asalan, memukul siswa, ini pasti tak dapat digeneralisir.

Ketiga, peserta didik, telah mengonsumsi proses pembelajaran secara teratur. Perlengkapannya pun tentu sudah disediakan orangtuanya masing-masing. Beberapa di antara mereka mencapai prestasi bagus, namun lebih banyak lagi yang tidak. Yang jelas, mereka sudah rutin berangkat ke sekolah. Kalau ada satu dua peserta didik yang membolos, sering tawuran, atau peralatan sekolahnya kurang, pasti ini bukan gambaran umum peserta didik negeri ini.

Pihak keempat, masyarakat pada umumnya (dan wali murid pada khususnya), sebagai stake holders pendidikan, adalah pihak yang paling sulit diukur komitmennya sehingga tak mudah pula mengorganisir partisipasinya. Sebagian (kecil) masyarakat kita peduli akan pendidikan anak-anak mereka, sebagian (besar) lainnya tak mau tahu.

Kebanyakan wali murid memandang sekolah sebagai institusi sempurna yang tak boleh cacat sedikit pun. Baik-buruk pendidikan ditentukan oleh lembaga penyelenggaranya, sedang komitmen masyarakat terhadap bidang ini, tak pernah diintrospeksi. Mereka pikir dengan membelikan perlengkapan sekolah, tugas mereka berakhir, dan tugas guru bermula. Orangtua bertugas mencari nafkah untuk membiayai pendidikan anaknya, anak belajar di sekolah, dan guru mengajar dengan sebaik-baiknya. Sesederhana itu. Belum ada kesadaran akan pentingnya long life education sebagaimana dicanangkan PBB. Masyarakat belum terbiasa untuk berpikir ilmiah dan bertindak logis. Dalam masyarakat seperti ini, guru acapkali bertugas sebagai pengajar sekaligus sebagai baby sitter.

Padahal jika semua unsur tersebut berfungsi optimal, maka tak perlu ada keluhan mengenai kesenjangan kualitas pendidikan di desa dengan kota, hingga pada gilirannya, pula tak ada keluhan mengenai ujian nasional. Bibit seunggul apa pun kecil kemungkinannya tumbuh subur di ladang tandus. lintasberita
Powered By LintasBerita

Tuesday, August 25, 2009

HATI-HATI ...

1 comments
Aneh bin ajaib. Mereka yang di satu pihak mengecam habis radikalisme teroris, ternyata di pihak lain diam saja melihat kejumudan yang melanda bagian lain dari umat ini berabad-abad lamanya. Sebuah artikel KOMPAS edisi Minggu, 16 Agustus 2009 berjudul 'Secangkir Air dari Kalijaga', menyebutkan, "Langsung berhubungan kepada Allah itu tidak sopan. Melalui guru dulu, lalu wali. Ini birokrasi spiritual, terlepas dari terminologi musyrik atau tidak," ujar Dr. Purwadi (seorang dosen Bahasa dan Budaya Jawa Univ. Negeri Yogyakarta yang juga menjadi salah satu kontributor untuk buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Penerbit Buku Kompas, 2006).
Artikel itu diakhiri dengan komentar, 'Dengan minum air gentong atau membaca kidung (Sunan Kalijaga, pen.), apa jodoh bisa enteng dan rejeki lancar ?' Kalo benar bisa, mengapa masih ada orang miskin, bahkan bertambah banyak dan mengapa biro jodoh pun masih laris?
Halaman lain koran edisi yang sama mengungkapkan kegelisahan Taufik Abdullah, sejarawan terkenal kita, "Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang berdasarkan pengetahuan, bukan takhayul" (KOMPAS edisi Minggu, 16 Agustus 2009).
Biar obyektif, sambil mewaspadai gerak kelompok teroris yang dituding sebagai bagian umat Islam radikal, kita juga harus menolak kejumudan yang menimpa bagian terbesar dari umat ini, yang antara lain terwujud dalam penghormatan berlebihan kepada kyai, taklid, takhayul, yang ini semua mengembalikan bangsa ini kepada jaman baheula, yang bahkan lebih buruk dari masa kolonialisasi oleh para penjajah dulu.
Wallahu a'lam.
lintasberita
Powered By LintasBerita

Tuesday, July 21, 2009

0 comments
Orang yang membunuh manusia lain yang sedang makan, bersantai, menikmati hidup, adalah pengecut. BUKAN PAHLAWAN.
Tapi ingat, kita hidup di jaman saat mana orang yang paling jahat pun, dengan manipulasi sedemikian rupa, dapat menikmati predikat pahlawan, bahkan mengenyam segala macam penghormatan.
Kita melewati fase jaman penuh rekayasa, sehingga yang jelek dianggap baik, yang baik dijelek-jelekkan, sunnah yang baik diasingkan, dan bid’ah yang buruk pun disepakati secara politis, ada yang baik.
Pada masa bias ini, di mana engkau berdiri ?
Sendiri di jalan lurus yang penuh duri dan aral melintang, atau beramai-ramai di jalan menyimpang yang dihiasi wewangian duniawi ?
APA YANG KAU PUTUSKAN UNTUK HIDUPMU ?
Menjadi pencari kebenaran, atau pengikut kebatilan ?
Apa jadinya kita bila Ibrahim a.s. hanya ikut-ikutan orangtua, saudara, nenek moyangnya?
Bagaimana nasib kita hari ini dan kelak jika Muhammad al-Amin dulu ikut-ikutan saja akidah orangtua, saudara, nenek moyangnya ?
Jangan-jangan …, engkau hanyalah sejenis mayat hidup yang menyerah pada common sense, anggapan umum, yang bahkan tak sanggup membuat keputusan bermakna untuk menentukan arah hidupmu sendiri ! lintasberita
Powered By LintasBerita

Monday, June 01, 2009

HABIS MANOHARA, TERBITLAH DERITA

0 comments
SETELAH KITA MEMELOTOTI TAYANGAN SELEBRITIS YANG SAKIT PILEK, SELINGKUH, MENANGIS, ATAU SEKEDAR GANTI GAYA RAMBUT, KINI KITA MENYAKSIKAN BABAK BERIKUTNYA DARI KISAH LADY DI INDONESIA, CINDERELLA KITA, YANG SEBENTAR LAGI AKAN BERTAMBAH POPULER DAN MEMBINTANGI FILM BERJUDUL "KISAH HIDUPKU DI KAKI ISTANA SELANGOR".
CAPEK DEEEHH ... !
lintasberita
Powered By LintasBerita

Thursday, April 23, 2009

LAWANNN !

0 comments
Sebagian besar hak rakyat jelata dirampas oleh para tokoh. Tokoh-tokoh ini bisa berupa elit politik, selebritas, "pemuka" agama, bintang sinetron, dll ... Sehingga, misalnya, taraf hidup guru yang sudah puluhan tahun mengajar tak sebanding dengan, misalnya lagi, kehidupan Debo, anak kemarin sore yang beruntung menjadi juara sebuah kontes nyanyi di sebuah televisi swasta.
EDANNN ... !
lintasberita
Powered By LintasBerita

Saturday, March 07, 2009

Tuesday, February 10, 2009

0 comments

DINASTI SELEBRITI,

DINASTI ATLIT,

DINASTI POLITIKUS,

DINASTI PENGUSAHA,

DINASTI PEGAWAI NEGERI,

DINASTI KULI,

DINASTI RAMPOK,

DINASTI KORUPTOR ...

lintasberita
Powered By LintasBerita

Monday, January 12, 2009

Friday, January 09, 2009

MENJADI ORANG SWASTA

0 comments

Agaknya benarlah tengara M.A.W. Brouwer berpuluh tahun yang lalu bahwa Indonesia adalah negeri pegawai. Paling tidak, ini tampak dari membludaknya jumlah pelamar setiap kali ada penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Indonesia.

Di kota Tegal saja, misalnya, menurut harian ini Sabtu, 8 Nopember 2008, Badan Kepegawaian Daerah setempat menerima 1468 berkas lamaran CPNS untuk sejumlah formasi yang hanya puluhan saja.

Berbagai alasan dilontarkan sebagai faktor pendorong diminatinya rekrutmen ini; mulai dari trend gaji pegawai negeri yang naik terus (untuk guru negeri saja, misalnya, mulai tahun anggaran 2009 gaji paling rendah adalah 2 juta rupiah), adanya berbagai tunjangan, jaminan hari tua, dll.

Alhasil dengan kondisi lapangan yang seperti ini, status mereka di masyarakat menduduki posisi terhormat. Kalaupun ada pegawai negeri yang berlaku amoral, paling hanya dikenai sanksi administratif saja, atau dimutasi dari jabatannya semula. Gaji, berbagai tunjangan, dan jaminan masih tetap mereka terima. Hmm … tawaran menggiurkan bagi orang-orang yang tak mau berisiko, harapan besar untuk mereka yang ingin hidupnya tentram dan damai. Pilihan realistis di negara-negara yang sudah makmur.

Adapun bagi negeri-negeri di masa yang tengah dibelit krisis keuangan global seperti saat ini, menjadi orang swasta lebih realistis, dan akan menginspirasi banyak orang lain untuk menggerakkan roda perekonomian.


Dunia Swasta

Tentu saja, konstatasi perekonomian suatu bangsa lebih dijalankan oleh ke-(wira)-swastaan daripada oleh pemerintah. Pemerintah sebaiknya cukup dipandang sebagai regulator / fasilitator saja, sedang yang berperan penting dalam hal ini adalah pelaku dunia ekonomi.

Di lapangan, perusahaan kecil yang beromset ratusan ribu rupiah lebih berperan menghidupi orang banyak daripada gaji seorang pegawai negeri yang jutaan rupiah.

Omset pengusaha ratusan ribu ini “diputar” lagi untuk modal produksi berikutnya, selain tentu saja, untuk konsumsinya sendiri. Sedang gaji pegawai negeri jutaan hanya cukup (bahkan seringkali tidak cukup) untuk kegiatan konsumsi saja.

Jelas saja, pengusaha kecil ini lebih berjasa untuk dirinya sendiri (dan karyawannya), daripada pegawai negeri yang berkonsumsi hanya untuk keluarganya saja.

Dalam skala yang lebih besar, pengusaha multi nasional merekrut lebih banyak tenaga kerja dengan upah yang setara dengan kualitas kerjanya, sedang korps pegawai negeri hanya segelintir kecil dengan penghasilan tetap untuk kualitas kerja yang tidak menentu. Bila jumlah pelayan masyarakat ini pun ditambah, ini berarti menambah beban anggaran negara untuk sektor belanja gaji mereka.

Jika potensi korupsi sama-sama besar, maka yang terjadi dunia swasta hanya akan berakibat pada pihak-pihak yang terlibat dengan pelaku, sedang korupsi di pemerintahan, dampak buruknya akan ditanggung oleh seluruh rakyat, bahkan bayi yang baru lahir.

Menurut sebuah survei, jumlah pegawai pemerintah pada negara-negara yang sudah maju hanya sekitar 2% saja dari keseluruhan jumlah penduduk. Dari sini kemudian disimpulkan bahwa sedikitnya pegawai negeri (dan banyaknya pelaku ekonomi swasta) berkorelasi nyata dengan pertumbuhan perekonomian yang signifikan. Sayangnya tidak ada contoh negara dengan jumlah pegawai pemerintahan yang prosentasenya besar. Namun sangat mudah diprediksi bahwa ketergantungan korps pegawai negeri terhadap pemerintah yang berkuasa adalah suatu kondisi yang mengkhawatirkan, terlebih lagi situasi dunia yang semakin rentan konflik (ingatlah ketika Perdana Menteri Ismail Haneya di Palestina tak mampu menggaji jajaran pemerintahannya karena tak mendapat dukungan dari Barat)

Dari segi ketahanannya pun, orang-orang swasta lebih teruji dari para amtenar ini. Konon sewaktu krisis moneter satu dekade yang lalu terjadi, sektor riil, pemilik usaha kecil-kecilan, mampu bertahan, sedang perusahaan-perusahaan dengan omset besar dan korps pegawai negeri hanya ikut membengkakkan jumlah utang luar negeri yang mencapai ratusan trilyun rupiah.

Dengan demikian, menjadi orang swasta, selain tidak ikut menambah beban anggaran negara, juga menginspirasi orang untuk hidup mandiri, suatu elan vital yang saat ini memang sudah kian tergerus common sense sempit.



* Guru MI NU 01 Sutapranan Kec. Dukuhturi Kab Tegal, anggota Forum Guru Sekolah Swasta Kabupaten Tegal, & tidak pernah mengikuti rekrutmen CPNS

lintasberita
Powered By LintasBerita

Wednesday, December 17, 2008

0 comments

TELOR PALSU, IJAZAH PALSU, SURAT NIKAH PALSU, OBAT

PALSU, JAMU PALSU, AIR MINERAL PALSU, MINUMAN

KEMASAN PALSU, SIM PALSU, STNK PALSU, KTP PALSU,

POLISI GADUNGAN, TENTARA GADUNGAN, DOKTER

GADUNGAN, MOTOR BODONG, MOBIL BODONG ...

lintasberita
Powered By LintasBerita

LEAVE YOUR MESSAGE HERE ...


Free chat widget @ ShoutMix