Monday, August 01, 2011

MENANTI GURU SUPER (1)

0 comments
Sungguh, beban yang disandang guru, apalagi yang mengajar pada jenjang pendidikan dasar, amat berat. Guru SD/MI merupakan peletak dasar worldview tentang kependidikan pada anak-anak bangsa. Jika dasarnya baik, maka (diharapkan) anak-anak bangsa akan merespon positif terhadap pendidikan yang mereka alami berikutnya. Sebaliknya, jika buruk, (dikhawatirkan) dapat menjadi stigma betapa rendahnya kualitas pendidikan maupun sekolah pada khususnya.
Para peserta didik akan trauma dengan pendidikan dan menganggap sekolah sebagai penjara bagi kebebasannya berkreasi. Timbullah gagasan deschooling society, home schooling, serta maraknya lembaga-lembaga bimbingan belajar, sebagai dampak carut-marutnya sistem pendidikan nasional, yang menjadikan guru tidak maksimal mengajar di sekolah.
Itu masih sekelumit kondisi internal dalam dunia pendidikan, sedangkan, tantangan dari luar dunia ini masih amat banyak. Kompetitor yang dianggap paling besar dan kerap dikeluhkan para pengajar adalah glamor dunia selebriti, stasiun-stasiun televisi, yang dituding banyak menampilkan tontonan-tontonan tak layak konsumsi.
Peserta didik lebih mengidolakan pesohor yang tak pernah mereka temui daripada guru yang sehari-hari mendampingi. Para petenar yang baru kemarin sore dibesarkan media lebih diamini ketimbang guru-guru yang dengan setia memberikan bimbingan dari nol. lintasberita
Powered By LintasBerita

Saturday, February 12, 2011

AHMADIYAH WARISAN PENJAJAH

0 comments
Ahmadiyah di negeri kelahirannya, Pakistan dan India, lebih dikenal dengan nama jemaat (golongan) Qodiyaniah. Penamaan jemaat ini dengan Ahmadiyah untuk mengecoh kaum muslimin di luar, sebab di tanah kelahirannya hanya populer dengan nama Qodiyaniah, sesuai dengan nama tempat kemunculannya, Qodiyan. Kendatipun sejatinya tidak ada hubungannya sama sekali antara mereka dengan Rasulullah Muhammad shallahu 'alaihi wassalam yang salah satu namanya adalah Ahmad. Sebab nama lengkap nabi mereka adalah Ghulam Ahmad, bukan Ahmad (saja).
Demikian penuturan Syaikh Ilahi Zhahir, seorang ulama Pakistan yang mendalami gerakan ini dan menuliskannya dalam buku berjudul:
Al-Qodiyaniah, Dirosatun Wa Tahlil, terbitan Idaratu Turjumanis Sunnah,
Lahore Pakistan. 1]
Salah satu fakta tersembunyi yang beliau angkat, bahwa Qodiyaniah (Ahmadiyah) merupakan warisan penjajah kolonialisme Inggris. Untuk membuktikannya, beliau hanya membiarkan mereka berbicara tentang diri mereka sendiri lewat buku dan pernyataan mereka. Inilah beberapa pernyataan mereka baik dari nabi palsu, keturunannya, maupun misionaris agama Qodiyaniah.
Mirza Ghulam Ahmad mengaku, kebanyakan orang yang masuk dalam jemaatku adalah para pegawai pemerintahan kolonial Inggris yang mempunyai kedudukan tinggi atau para petinggi negeri ini dan kaum pedagang besar, termasuk para pengacara dan para pelajar yang menekuni kajian Inggris atau para ulama yang menjadi antek pemerintah kolonialis Inggris masa lalu atau yang sekarang masih melayani pemerintahan kolonialis itu, kaum kerabat mereka dan orang-orang terkasih mereka. Ringkasnya, jemaat ini membentuk pemerintahan kolonialis Inggris, sehingga mendapatkan keridhaannya... “Saya dan para ulama yang mengikutiku bertugas menjelaskan kebaikan-kebaikan pemerintahan kolonialis ini dan menanamkannya di hati ribuan orang” (Aridhatul Ghulam al-Qodiyani, tabligh risalat 7/18) 2]
Seorang misionaris Qodiyaniah dengan bangga mengakui, “Saya beberapa kali dijebloskan dalam penjara Rusia dengan tuduhan sebagai mata-mata Inggris. Padahal saya tidaklah pergi ke Rusia kecuali untuk menyebarkan ajaran Qodiyaniah. Namun, dikarenakan misi dan tujuannya berhubungan erat dengan misi pemerintahan Britania (Inggris), maka saya terpaksa menjalankan misi pemerintahan Inggris dan melaksanakan kebijakannya” (Maktub Muhammad Amin, penyebar Qodiyaniah, Harian al-Fadhl milik Ahmadiyah 28 September 1923 M) 3]
Sementara itu, putra si Mirza Ghulam Ahmad pun yang menjadi khalifah Ahmadiyah pertama pun mendukung pengakuan sang ayah dengan berkata, “Sesungguhnya ulama Islam menuduh kita membantu kolonialis Inggris dan mengejek kita lantaran kita bergembira atas penaklukan-penaklukan yang dilakukan pemerintah kolonialis Inggris (di negeri-negeri islam). Kita ingin bertanya, kenapa kita tidak boleh bergembira? Mengapa kami tdak boleh bahagia? Imam kami (Mirza Ghulam Ahmad) telah menyatakan, Sesungguhnya aku adalah (Imam) Mahdi ddan pemerintahan kolonialis Britania (Inggris) adalah pedangku. Kita bersuka cita atas kemenangan ini. Dan kita ingin menyaksikan sinar dan kilatan pedang (kolonialis Inggris) ini di Irak, negeri Syam dan di seluruh wilayah. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menurunkan malaikat untuk mendukung dan membantu pemerintah Inggris” (Harian al-Fadhl 7 Desember 1918 M) 4]
Dia menambahkan, “Sesungguhnya ada ratusan orang (jemaat Ahmadiyah) ikut berperang bersama pasukan Inggris untuk menaklukkan negeri Irak dan rela menumpahkan darah untuk itu” (Harian al-Fadhl 31 Agustus 1923 M)5]
Pemerintah Afganistan pernah membunuh dua orang Ahmadiyah yang menjadi mata-mata Inggris di saat berkecamuknya peperangan antara dua negara itu. Menteri Urusan Dalam Negeri Afganistan menyampaikan bahwa ditemukan dokumen-dokumen resmi yang membuktikan mereka berdua adalah antek kolonialis Inggris. Namun, putra Mirza Ghulam Ahmad, Khalifah Qodiyaniah pertama justru berbicara dengan bangga dalam khutbah jum'atnya, “Seandainya orang-orang kami bila diam saja saat berada di Afganistan dan tidak berterus terang tentang akidah kami berkaitan dengan jihad, maka tidak akan ada sesuatu yang menimpa mereka. Akan tetapi, mereka ini tidak mampu menyembunyikan perasaan cinta dan kasih sayang mereka kepada pemerintah Britania (Inggris) yang menugaskan
mereka melalui kami. Karenanya, mereka akhirnya tewas”. (Khutbah Jum'at yang diterbitkan dalam Harian al-Fadhl 16 Agustus 1935 M) 6]
Demikian beberapa pengakuan jujur mereka tentang jati diri sendiri (Ahmadiyah). Meski tidak banyak, tapi sudah memadahi untuk menampakkan wajah asli mereka. Adalah pantas bila umat Islam tidak menerima keberadaan mereka meski kami juga tidak mendukung tindakan anarki terhadap para pengikut Qodiyaniah di negeri ini. Pemerintahlah yang berkewajiban mengamankan akidah umat Islam.
Wallahu a'lam.
Penulis: ustadz Abu Minhal (Majalah As-Sunnah, Edisi 10/THN.XIV/RABIUL AWWAL 1432 H / PEBRUARI 2011 M, halaman 54) lintasberita
Powered By LintasBerita

Friday, December 31, 2010

Revitalisasi Madrasah

0 comments

Barangkali benar, sistem pendidikan nasional dewasa ini sekadar meneruskan sistem yang sama diterapkan pada masa kolonial dahulu.

Saat itu, penjajah lebih mementingkan sekolah-sekolah bentukannya sendiri, yang kemudian hari disebut sebagai sekolah negeri. Sebaliknya, lembaga-lembaga pendidikan rintisan masyarakat disebut dengan wilde scholen, ‘sekolah liar’, yang kemudian disebut sekolah swasta (“Sejarah Pendidikan Indonesia”, S. Nasution, PT. Bumi Aksara, 2008).

Apa yang terjadi semenjak pemerintah kolonial mendirikan sekolah-sekolahnya pada pertengahan tahun 1700-an ? Justru penjajahan semakin langgeng, karena sekolah-sekolah negeri bentukan Belanda hanya menjadi perlambang status sebagai bagian masyarakat yang terhormat. Anak-anak sekolah bentukan Belanda acapkali kemudian menjadi pegawai pemerintah penjajah yang sering mengkhianati bangsanya sendiri dan, sebaliknya, menjilat muka penjajah.

Bagaimana pula yang terjadi ketika masyarakat mulai berinisiatif mendirikan sekolah-sekolah, yaitu Taman Siswa yang berorientasi nasionalisme dan Muhammadiyah yang bersifat keislaman, pada awal tahun 1900-an ? Sejak saat itu lahirlah generasi terdidik yang kemudian mendirikan organisasi-organisasi pergerakan bangsa yang lebih modern dan terorganisir, dan pada saatnya memproklamirkan kemerdekaan bangsa.

Perjuangan rakyat yang sekian ratus tahun menemui jalan buntu, pada waktu itu mendapati momentumnya justru ketika masyarakat berinisiatif mendidik dirinya sendiri dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang oleh pemerintah kolonial pada saat itu disebut dengan ‘sekolah liar’.

Inilah cikal bakal madrasah, yang berawal dari sekolah-sekolah swasta bentukan masyarakat sendiri sebagai wujud kegeraman atas sekolah-sekolah bentukan penjajah.

Dalam perkembangannya, sekolah umum lebih diminati kalangan orangtua murid ketimbang madrasah. Ini merupakan ironi, sebab, selain porsi pendidikan agama di sekolah umum yang sedikit, pula karena praktek pengajaran ala penjajah masih kerap ditemui pada sekolah umum. Misalnya, pencekokan materi pelajaran yang sejatinya pengkerdilan daya nalar peserta didik, pendapat guru selalu benar - tak boleh dibantah, dll.

Dengan landasan semangat kembali pada perjuangan bangsa, maka Kementerian Agama agaknya tengah berupaya maksimal menguri-uri eksistensi madrasah. Dalam kondisi moral bangsa yang disipongangi berbagai bencana fisik maupun akhlak, revitalisasi madrasah menemukan alasannya. Program kementerian ini antara lain menelurkan program MEDP (Madrasah Education Development Project) yang saat ini masih dalam tahap pertama, mendirikan berbagai madrasah berstandar internasional di beberapa wilayah, mengiklankan madrasah di stasiun-stasiun televisi (beserta film “Simba dan Sahabat”, yang berkisah mengenai haru-biru murid madrasah).

Upaya pemerintah ini patut disambut hangat karena, di luar berbagai cap jelek yang ditabalkan pada Kementerian Agama, disemangati oleh romantisme kembali pada eksistensi awal sebagai bangsa pejuang yang ‘berdikari’ (berdiri di atas kaki sendiri, meminjam istilah Bung Karno), bukan bangsa pegawai, yang sekadar mewarisi sistem peninggalan bangsa penjajah.

Penulis, mengajar di MI Sutapranan,

Kec. Dukuhturi, Kab. Tegal

lintasberita
Powered By LintasBerita

LEAVE YOUR MESSAGE HERE ...


Free chat widget @ ShoutMix