Artikel itu diakhiri dengan komentar, 'Dengan minum air gentong atau membaca kidung (Sunan Kalijaga, pen.), apa jodoh bisa enteng dan rejeki lancar ?' Kalo benar bisa, mengapa masih ada orang miskin, bahkan bertambah banyak dan mengapa biro jodoh pun masih laris?
Halaman lain koran edisi yang sama mengungkapkan kegelisahan Taufik Abdullah, sejarawan terkenal kita, "Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang berdasarkan pengetahuan, bukan takhayul" (KOMPAS edisi Minggu, 16 Agustus 2009).
Biar obyektif, sambil mewaspadai gerak kelompok teroris yang dituding sebagai bagian umat Islam radikal, kita juga harus menolak kejumudan yang menimpa bagian terbesar dari umat ini, yang antara lain terwujud dalam penghormatan berlebihan kepada kyai, taklid, takhayul, yang ini semua mengembalikan bangsa ini kepada jaman baheula, yang bahkan lebih buruk dari masa kolonialisasi oleh para penjajah dulu.
Wallahu a'lam.









